PESERTA INDONESIA SERUKAN
BAHWA DUNIA ISLAM BUKAN HANYA TIMUR TENGAH
![]() |
Atas undangan Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS), Oxford University, Dr. N. Hassan Wirajuda dan Plh Direktur Diplomasi Publik Deplu telah hadir sebagai peserta konferensi mengenai “US and the Muslim World”, di Ditchley Park, Oxfordshire pada tanggal 13 – 15 November 2009. Selain dari Indonesia, hadir pada konferensi tersebut antara lain Ms. Jennifer Abrahamson, Regional Manager Oxfam; Prof. George Joffe, University Cambridge; |
Dr. Hassan Wirajuda dan Yuri O. Thamrin, Dubes RI untuk Inggris bersama Dr. Farhan Nizami-Direktur OCIS (paling kanan), usai konferensi di Ditchley Park, 13 – 15 November 2009. (Foto oleh: TB) |
Sir Harold Walker, mantan Dubes Inggris untuk Irak; Prof. Stephen Walt, Harvard University; Prof. Jennan Read, Duke University; dan sejumlah jurnalis berbagai media dan para Duta Besar untuk Inggris termasuk Yuri O. Tmarin, Dubes RI untuk Inggris.
Konferensi dalam format round table discussion ini membahas diantaranya mengenai hubungan sejarah dan politik strategis Amerika Serikat dengan dunia Islam, yaitu mengenai kepentingan-kepentingan kedua pihak dari perspektif sejarah yang dipengaruhi lingkungan strategis negara-negara di Timur Tengah termasuk konflik Palestina-Israel. Dalam perkembangannya, diskusi juga membahas pergeseran kebijakan pemerintah AS di bawah Obama yang saat ini lebih mengutamakan penyelesaian konflik Palestina-Israel dan hubungan antara As dan dunia Islam yang masih diwarnai oleh pertang terhadap terorisme.
Dalam kesempatan tersebut, peserta Indonesia menyampaikan pandangan dari sisi negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, non Arab dan tidak terletak di Timur Tengah. Ditekankan bahwa dunia Islam tidak hanya Timuir Tengah. Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta muslim yang moderat dan tolerann telah berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa Islam, demokrasi, modernitas dan pluralisme dapat berkembang bersama dengan baik.
Kepada dunia Islam, peserta Indonesia mengingatkan agar tidak bersifat pasif menunggu perubahan kebijakan AS, namun harus secara aktif mengurangi/ menutup jurang perbedaan dan pendapat antara AS dan dunia Islam. Kepada pemerintah AS, diharapkan dapat lebih seimbang dalam menjalakna kebijakannya di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam lainnya.
Peserta dari Indonesia melihat bahwa persepsi peserta konferensi mengenai the Muslim World hanyalah terfokus pada Timur Tengah tanpa melihat bahwa negara-negara non-Arab mempunyai penduduk mayoritas beragama Islam. Persepsi ini juga dianut oleh para pakar dan pengambil asal Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan dunia Islam akan selalui diwarnai oleh hubungannya dengan Timur Tengah. Indonesia dapat memanfaatkan sistuasi ini dengan terus melakukan dialog dengan Amerika Serikat, yang setidaknya dapat mengikis persepsi yang salah mengenai dunia Islam yang identik dengan Timur Tengah.










