| home | news |
KBRI London Pamerkan Hasil Karya Para Maestro Seni Lukis Indonesia
London, 16 May 2007

KBRI London telah menyelenggarakan sebuah pameran koleksi lukisan Indonesia yang merupakan hasil karya para Maestro yaitu Affandi, Kartika Affandi, Basuki Abdullah, Salim dan Srihadi Sudarsono.

Dari keduapuluh satu lukisan yang dipamerkan, juga terdapat karya-karya para pelukis lainnya seperti Abas Alibasjah, Agus Wakidi, Anton Huang, I Nyoman Lesug, The Hsiang Hong, Tio Tjai, Yusuf Affendy dan dua pelukis asing yang menghasilkan karya-karya mengenai Indonesia yaitu Mori Kinsen dan Koenig.

Keseluruhan lukisan yang dipamerkan di Wisma Nusantara pada pertengahan Mei 2007 ini adalah merupakan koleksi lukisan milik Pemri yang berada di gedung KBRI dan Kediaman Resmi Dubes RI, Wisma Nusantara. 

Tujuan utama penyelenggaraan pameran adalah untuk meningkatkan awareness publik Inggris mengenai nilai seni dan komersial lukisan-lukisan Indonesia yang selama ini belum begitu dikenal di negara akreditasi.

Sejalan dengan itu, kegiatan pameran juga diisi dengan sebuah presentasi mengenai berbagai perkembangan dunia seni lukis Indonesia, aliran-aliran yang dianut oleh para pelukis sejak jaman Raden Saleh hingga masa kini dan perkembangan pasaran serta nilai komersialnya di pasar internasional.

Selain menguraikan secara singkat mengenai perkembangan „the new democratic“ Indonesia, Dubes RI untuk Kerajaan Inggris, Dr. Marty M Natalegawa, juga menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran lukisan semacam ini merupakan salah satu upaya kongkrit yang telah dan akan terus dilakukan oleh KBRI London untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan aspek seni dan budaya Indonesia sejak awal abad ke-18 yang telah diisi dengan hasil-hasil karya para seniman asli Indonesia seperti Raden Saleh.

Presentasi disampaikan oleh Ms. Hélène N. Feillard, seorang pakar mengenai benda-benda seni Asia Tenggara khususnya lukisan, dan pada saat ini sedang melakukan studi Doktoral di Ecole des hautes Etudes on Sciences Society di Paris,  Perancis.

Pameran dihadiri oleh sekitar 100 orang undangan yang merupakan “targeted audience” dan mewakili kalangan kolektor, konsultan seni, kurator museum seni, seniman, para pakar mengenai Indonesia dari beberapa universitas dan perpustakaan nasional Inggris (British Library), media, dan homestaffs KBRI London.