| home | news |

 

Seminar on Promoting Sustainable Palm Oil

 

 
 

 

Departemen Pertanian RI dan Dewan Minyak Sawit Indonesia bekerjasama dengan KBRI London telah menyelenggarakan Seminar on Sustainable Palm Oil pada tanggal 31 Oktober 2007 bertempat di Hyatt Regency – Churchill Hotel, Marble Arch. Tujuan seminar adalah untuk membuka komunikasi dan mempromosikan industri minyak sawit yang berkesinambungan di Indonesia

Acara dimulai dengan opening remarks oleh Kuasa Usaha Ad Interim KBRI London, Dewa Made J. Sastrawan dan Keynote Address oleh Menteri Pertanian RI yang dalam kesempatan itu disampaikan oleh Dirjen PPPH Departemen Pertanian RI, Prof. Dr. Djoko Said Damardjati. Selanjutnya disampaikan paparan-paparan mengenai industri minyak sawit di Indonesia dan berbagai aspek yang terkait oleh sejumlah pembicara yaitu Bryan Dyer (PT. PP London Sumatra Indonesia), Jan Kees Vis (PT. Unilever), Ibrahim Hasan (PT. Asian Agri), Tony Liwang (PT. SMART), Lord Ronald Leach (Jardine Matheson Holding Ltd), dan Rudy Lumuru (Sawit Watch Indonesia).

Dalam sambutannya KUAI menyatakan bahwa sejalan dengan konsep perubahan (Change) yang dicerminkan oleh perkembangan-perkembangan demokratisasi di bidang politik, ekonomi dan social-budaya, dalam melaksanakan perannya sebagai salah satu penghasil utama minyak sawit di dunia, Indonesia telah menunjukkan kesiapannya untuk menerima masukan-masukan konstruktif dari pihak luar terutama dalam kaitannya dengan keinginan Indonesia untuk mewujudkan industri minyak sawit yang berkesinambungan dan ramah lingkungan.

Adapun Keynote Speech Menteri Pertanian menggarisbawahi bahwa pengembangan perkebunan sawit di Indonesia dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip kesinambungan dimana sebagian besar perkebunan didirikan di atas lahan yang tadinya merupakan lahan HPH, tanah kosong atau dirubahfungsikan dari lahan yang sebelumnya ditanami karet, kopi atau cokelat. Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit juga dilakukan dengan memperhatikan berbagai factor seperti undang-undang dan peraturan pertanahan, kelangsungan keanekaragaman hayati dan satwa liar, pengaturan pembuangan limbah dan tanggung-jawab ekonomi dan social dari perusahaan pengelola perkebunan.

Acara dihadiri oleh lebih dari 100 orang undangan yang mewakili dunia usaha dan NGO. Isu-isu utama yang menjadi perhatian para peserta terutama NGOs adalah mengenai berkurangnya habitat orang-utan, corporate social responsibility, land rights of indigenous people, deforestation dan isu-isu RSPO yang terkait dengan Indonesia.  (KBRI London/DIF)