| home | news |



PRESS RELEASE
PR/02/04 /09

Pesona Alunan Angklung tutup Festival Indonesia di London

Tepuk tangan meriah memenuhi Central Hall Westminster, gedung megah bergaya ‘renaissance french’ yang terletak di pusat kota London, ketika konduktor Ika Widyaningsih mengakhiri permainan angklung interaktif yang dimainkan oleh sekitar 200 undangan pada Kamis malam tanggal 16 April lalu.  Permainan angklung tersebut merupakan penutup dari acara ’Indonesian Gala Dinner’ yang merupakan  bagian dari Indonesian Festival yang diselenggarakan selama dua hari di London.

Pada acara jamuan makan malam tersebut, para undangan yang sebagian besar terdiri dari kalangan terkemuka di London dengan semangat menghentakkan angklung bambu masing-masing secara berirama sehingga tercipta melody-melody merdu, antara lain Frère Jacques and My Heart Will Go On. 


Para undangan juga sangat menikmati tarian-tarian tradisional yang disuguhkan diantaranya tarian Neng-neng Der dari Jakarta, tarian Dadas Panaluh dari Kalimantan Tengah, tarian Turang Beru Karo dari Sumatera Utara, serta tarian Topeng Jauk dari Bali.  Suguhan tari-tarian tradisional tersebut dibawakan oleh rombongan penari dan penyanyi yang didatangkan secara khusus dari tanah air dengan MC. Sarah Sechan.

Pertunjukan kebudayaan dan kesenian pada acara jamuan makan malam itu juga diselingi oleh pagelaran busana rancangan Stephanus Hamy, perancang mode Indonesia yang senantiasa berusaha mengangkat penggunaan tekstil tradisional bangsa.  Malam itu ia menampilkan koleksi dalam tiga tema; ‘Enchanting Intertwine of East Nusa Tenggara’ yang memadukan songket dari Flores, Sumba dan Timor dengan tenun ikat dari Bali, ‘Exquisite Construct of Batik’ yang menawarkan gaun malam berbahan sutra dengan motif batik, serta ‘Transformation Songket’ yang memberikan pilihan busana sehari-hari dengan paduan songket Bali dan aksesoris manik-manik tradisional.

Acara pagelaran kesenian dan budaya pada Indonesian Gala Dinner tersebut terselenggara atas kerjasama KBRI London dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata  untuk menyongsong ‘Visit Indonesia 2009’. Pada hari yang sama, telah dilaksanakan Business Meeting dengan menghadirkan berbagai mitra dari kalangan industri pariwisata dan media massa, serta perwakilan negara sahabat dan pemerintah setempat. 

Dalam kata sambutannya  mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, DR. Sapta Nirwandar, Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata, menekankan bahwa  ‘Festival Indonesia yang diselenggarakan di London merupakan soft power untuk terjalinnya hubungan bilateral yang erat dalam bidang kebudayaan dan pariwisata’.  Sementara itu Duta Besar Yuri Thamrin menyampaikan bahwa ‘Festival Budaya ini merupakan salah satu upaya untuk membawa Indonesia semakin dekat ke hati teman-teman Indonesia di Inggris’.

Pada hari sebelumnya, Rabu tanggal 11 April 2009, rombongan duta wisata Indonesia tersebut telah mempertunjukkan tarian-tarian daerah serta lagu-lagu daerah di Horniman Museum untuk kalangan publik, yang sebagian besar terdiri dari keluarga beserta anak-anak yang sedang menikmati liburan sekolah. Disamping pagelaran budaya, Mutumanikan Nusantara Indonesia juga telah ikut memeriahkan acara di Central Hall Westminster dan Horniman Museum tersebut dengan menyelenggarakan pameran perhiasan rancangan klasik para pengrajin Indonesia.

Seluruh rangkaian pagelaran budaya di Festival Indonesia yang diselenggarakan di London bertujuan untuk memperkenalkan sebagian kecil dari aneka ragam budaya Indonesia kepada warga London dan sekitarnya, serta untuk meningkatkan jumlah wisatawan Inggris ke Indonesia dan investasi usaha pariwisata di Indonesia bagi kalangan usahawan yang bergerak di bidang pariwisata.

London, 20 April 2009